Kasus ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 333 Ribu, Kemenkes Imbau Warga Pakai Masker
- account_circle Siti Rohmawati
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, memaparkan kasus ISPA di daerah terdampak karhutla. (Tangkap Layar YouTube BNPB)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cikaranghitz.com, Jakarta – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak pada kesehatan warga. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak. Angka itu akumulasi sejak 18/8 hingga 21/10.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, memaparkan data tersebut dalam konferensi pers penanganan karhutla di Studio BNPB, Kamis (22/10). Kompas.com dan detikNews melaporkan pernyataannya. Balita di bawah lima tahun menyumbang 75.172 kasus. Sementara itu, 258.298 kasus terjadi pada warga di atas lima tahun. Per 21/10, 4.522 orang masih menderita ISPA.
Kasus Naik di Sejumlah Provinsi
Beberapa provinsi mencatat kasus lebih tinggi daripada tahun lalu. Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau termasuk di dalamnya. Namun, Kalimantan Barat mulai menunjukkan penurunan. Adapun kasus di Kalimantan Timur dan Jambi relatif sama dengan tahun lalu.
Menurut Suyanti, asap karhutla membawa polutan seperti partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida. Karena itu, paparannya bisa memicu ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta iritasi mata dan kulit. Kelompok rentan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, dan pekerja luar ruangan.
Layanan Kesehatan Siaga di Wilayah Terdampak
Untuk itu, Kemenkes menyiagakan puskesmas di seluruh wilayah terdampak. “Di seluruh Puskesmas di wilayah terdampak yaitu ada 1691 Puskesmas yang kita siagakan,” kata Suyanti, dikutip Kompas.com, Kamis (22/10). Selain itu, pemerintah menyiapkan rumah sakit rujukan, laboratorium kesehatan masyarakat, dan layanan Public Safety Center (PSC) 119. Pemerintah daerah juga menyediakan 491 rumah oksigen.
Kemenkes juga mengedukasi masyarakat, membagikan masker, dan memantau kualitas udara. Lembaga itu turut memantau ketersediaan obat-obatan, bahan medis habis pakai, dan alat kesehatan. Di samping itu, Kemenkes mengirim surat edaran ke pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan. Menurut detikNews, Kemenkes meminta Kementerian Agama serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat udara buruk.
Imbauan untuk Warga
Suyanti mengimbau warga memantau kualitas udara lewat layanan SatuSehat dan ISPU Net milik Kementerian Lingkungan Hidup. Jika kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, warga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Bagi yang harus keluar rumah, masker dan air minum yang cukup menjadi bekal penting.
“Jangan lupa apabila harus keluar menggunakan masker dan jaga hidrasinya,” kata Suyanti, dikutip detikNews, Kamis (22/10). Warga juga perlu mengurangi asap yang masuk ke rumah. Bila gejala kesehatan meningkat, segera datang ke fasilitas kesehatan.
- Penulis: Siti Rohmawati
