Siswa SMK di Samarinda Meninggal, Dugaan Sepatu Kekecilan Jadi Sorotan Publik
- account_circle Annisa Yalin Rahma
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dokumentasi/Instagram @smkn4_samarinda
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cikaranghitz.com, Samarinda – Mandala Rizky Syaputra (16), seorang siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia pada Jumat (24/4) setelah mengalami gangguan kesehatan pada bagian kaki yang diduga berkaitan dengan penggunaan sepatu sekolah yang sudah tidak sesuai ukuran. Peristiwa yang viral di media sosial itu memicu perhatian masyarakat dan menimbulkan rasa prihatin dari berbagai pihak.
Korban diketahui tetap menggunakan sepatu lama karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Dalam kesehariannya, ia masih mengikuti kegiatan sekolah dan praktik kerja lapangan meskipun sering mengeluhkan rasa sakit pada kaki.
Berdasarkan informasi yang beredar, kondisi korban mulai memburuk setelah mengalami pembengkakan pada bagian kaki. Rasa sakit yang awalnya hanya terasa di area kaki kemudian disebut menjalar hingga ke bagian pinggang dan punggung tubuh. Korban sempat menjalani perawatan di rumah sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Segenap keluarga besar SMK 4 turut berduka cita atas berpulangnya Mandala Rizky Syaputra, siswa kelas XI Pemasaran 2 yang kami cintai,” tulis pihak sekolah melalui akun media sosial resminya, dikutip dari detiknews.com, Minggu (24/5).
Dugaan sementara mengarah pada infeksi yang terjadi akibat pembengkakan pada kaki korban. Namun, pihak sekolah menegaskan bahwa penyebab pasti meninggalnya siswa tersebut masih belum dapat dipastikan secara medis.
“Tanpa ada diagnosis medis yang lengkap, maka sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian karena belum terbukti,” tulis pihak sekolah dalam klarifikasinya.
Menanggapi kejadian tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, meminta sekolah lebih peka terhadap kondisi siswa yang mengalami keterbatasan ekonomi.
“Mestinya kalau sepatu kekecilan, disampaikan ke sekolah atau orang tua. Kita ada dana PIP, ada dana BOSDA, ada dana BOSNAS. Kalau hanya satu-dua anak, mestinya kita bisa bantu” ujar Armin saat dimintai keterangan, dikutip dari Sapos.co.id, Minggu (24/5).
Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena menunjukkan bahwa perlengkapan sekolah yang tampak sederhana pun dapat berdampak terhadap kesehatan siswa apabila tidak diperhatikan dengan baik.
Kini, masyarakat berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak terhadap kesejahteraan pelajar, khususnya bagi siswa dari keluarga kurang mampu, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
- Penulis: Annisa Yalin Rahma
