Rupiah Sempat Tembus Rekor Terlemah, Pemerintah dan BI Siapkan Langkah Stabilisasi
- account_circle Siti Rohmawati
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cikaranghitz.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (12/5). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah hingga Rp17.529 per dolar AS atau turun 115 poin (0,66 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Meski demikian, pada perdagangan Rabu pagi (13/5), rupiah tercatat kembali menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian global.
“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat,” ujar Destry seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan mulai mengaktifkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas pasar obligasi negara mulai Rabu (13/5), termasuk melalui intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
“Kita akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market. Kita kan punya BSF tapi belum fund semuanya, kita aktifkan instrumen yang kita punya di sini,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (12/5).
Purbaya juga menggelar rapat mendadak bersama jajaran Kementerian Keuangan untuk membahas kondisi rupiah yang terus melemah. Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa penggunaan Bond Stabilization Fund (BSF) hanya dilakukan dalam kondisi tertentu dan tidak akan diaktifkan secara sembarangan.
Di sisi lain, DPR juga turut menyoroti pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Ketua DPR RI Puan Maharani menyebut DPR akan memanggil pemerintah dan Bank Indonesia untuk membahas perkembangan ekonomi dan nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan.
Menurut Puan, kondisi tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap pelaku usaha dan masyarakat, terutama akibat kenaikan harga barang impor.
“Situasi ini dapat berpotensi memicu inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, serta memperbesar beban pelaku usaha, khususnya sektor industri, transportasi, dan UMKM yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional,” jelas Puan dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Selasa (12/5).
Selain itu, Puan mengatakan Indonesia juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi, biaya logistik, hingga terganggunya rantai pasok global.
“Kita mengalami tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak, meningkatnya biaya logistik dan distribusi, serta tekanan terhadap ketahanan energi nasional akibat terganggunya rantai pasok global,” kata Puan.
Oleh karena itu, ia menyatakan DPR mendukung langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, mitigasi arus modal asing keluar, pengendalian harga kebutuhan pokok, serta perlindungan terhadap masyarakat kecil perlu dilakukan.
Hingga kini, pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau pergerakan pasar serta menyiapkan berbagai langkah stabilisasi guna menjaga kepercayaan pasar dan mencegah tekanan lanjutan terhadap nilai tukar rupiah.
- Penulis: Siti Rohmawati
